heroes & achie, 17 September 2011


Masih terekam dengan jelas di kepala saya pertemuan di RSUD Banyumas 10 Agustus kala itu. Saat itu ia datang sangat anggunnya. Ketika saya berdiri di sana, tepat di hadapannya, tahukah kamu perasaan saya tidak karuan? Perasaan senang karena akhirnya bisa bertemu dengan penuh kesadaran, dan saya gemetar karena pertemuan itu merupakan pertemuan pertama kami. Kedua perasaan itu bercampur aduk dalam perut saya, ya, sama seperti apa yang dikatakan banyak orang, “Seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutmu…” atau memang saya punya sakit magh kronis, aku tidak tahu yang jelas saya grogi stadium 10. Time is running out, hari itu Jum’at dan hari itu sedang puasa dan saya lupa jam berapa waktu itu, yang jelas saya sudah tidak konsen dengan pekerjaan menumpuk didepan mata saya, karena yang ada dibenak saya, saya harus segera mungkin bersiap-siap kerumah dia, yaaa untuk yang pertama kalinya, yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya. Menjemputnya untuk buka puasa bersama, so romantic.Hari berlalu lagi, dan kalau saatnya tiba kita akan bertemu lagi. Tak peduli saya bisa mendapatkan hatinya atak tidak, tak peduli saya harus menunggu lama sampai dia bilang “ia”, tak peduli apa yang saya takutkan bisa saja sewaktu-waktu terjadi, tak peduli saya diacuhkan karena saya akan mengusahakannya. Selama saya bisa menyampaikan niat tulus saya, atau melihatnya tertawa karena lelucon saya, saya akan terus berdo’a. dan hari hari kemudian...hari itu, tepat hari Iedul fitri saya terlibat pembicaraan serius dengan orang tua dia. Berawal dari hal-hal kecil yang saya lakukan untuk dia, jadi kami tersulut membicarakan masa depan hubungan kami dengan orang tua. Rasa terkejut, kaget, namun bahagia rasanya, karena seiring berlalunya waktu rasa itu yang kemudian membuat saya sadar. Bahwa saya benar telah bersungguh-sungguh. Seseorang pernah berkata kepada saya. Bahwa ketika seseorang telah memiliki kemauan untuk bersungguh-sungguh melakukan sesuatu, itu adalah manifestasi dari kedewasaan.Sampai pada suatu hari 17 September 2011, bahwa saya meyakini ini tidak hanya berkat niat tulus, doa dan kesiapan mental, tapi juga berkat saling percaya satu sama lain. Seandainya saya tidak percaya dengan kalimat dia “Ga usah ngekhawatirin masa depan yg ketentuannya Alloh yg ngatur….RencanaNya pasti indah” ataupun dia yang tidak percaya dengan kemauan keras saya, kami ga akan pernah sampe di sini, dihari yang bahagia ini, di hari lamaran dan pertunangan kami. Dan sekarang, kami hanya bisa merencanakan yang terbaik yang kami bisa, karena masih banyak lagi cerita yang akan kami rangkai lagi esok, hingga kami menjadi orang tua nanti. Saya percaya, kami akan menemukan kebahagiaan yang sempurna di ujung sana, Amin.